Garoetpos.com – Sungguh miris, seorang anak usia 6 tahun terbaring tak berdaya di atas kasur, Tubuhnya tampak kurus, penyakit yang bersarang pada anak bernama M Alfa Muzakir Berliawan itu yakni Hidrosefalus (penumpukan cairan pada rongga otak) sehingga kepalanya membesar.
Beberapa bulan setelah dilahirkan, anak dari pasangan Sansan (40) dan Irma (38) warga Kampung Lawang Biru RT 03, RW 08, Desa Situjaya, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut ini dinyatakan mengidap penyakit tersebut.
“Lahirnya kembar, namun prematur, kalau adiknya sih normal tidak ada masalah, namun Alfa, semenjak ia lahir harus dirawat hampir 2 bulan di Rumah Sakit, lalu pernah dirawat juga di RS di Kota Bandung, namun saat di Bandung Alfa dinyatakan mengidap hidrosefalus”.,ujar Irma ibunda Alfa, saat diwawancara Garoetpos.com Sabtu, (3/11/2022).
Dari semenjak itu, keluarga Irma berusaha untuk mengobati anaknya, Namun sayangnya pengobatan Alfa harus terhenti karena faktor ekonomi yang memakan biaya tidak sedikit.
“Karena faktor ekonomi, sehingga pengobatan anak kami terhenti . Karena kami tidak mampu membawa ke rumah sakit untuk proses pengobatan”.ujar Irma.
Selain itu, Irma juga mengaku ia dan keluarganya termasuk Alfa pernah menjadi peserta BPJS Mandiri, namun karena karena keterbatasan ekonomi juga, ia tak sanggup untuk membayar iuran BPJS tersebut, sehingga hingga saat ini BPJS nya non aktif karena premi yang totalnya hingga 6 juta rupiah.
“Kami bingung mau melanjutkan pengobatan tak ada biaya, mau pakai BPJS gak aktif karena ada tunggakan 6 juta rupiah kami harus lunasi dulu”,tuturnya.
Dengan kondisi yang ada, Irma mengaku hanya memberi perawatan sewajarnya, yakni hanya memberi makan, memandikan tanpa pemberian obat obatan. Sampai hari ini Irma mengaku belum ada sumbangsih dari siapapun terkait penyakit anaknya.
Menanggapi hal tersebut, Aktivis Sosial, Yusup Budiman,S.Pd mengaku prihatin dengan kondisi Alfa dan merasa miris disaat sekarang pemerintah pusat menggembor-gemborkan bantuan sosial, tapi masih terdapat potret masyarakat perlu dibantu namun belum tersentuh.

“Saya merasa prihatin dengan anak ini. Sangat ironis sekali disaat pemerintah pusat menggembor-gemborkan bantuan sosial mulai dari kesenjangan sosial maupun kesehatan, tapi disisi lain ada keluarga yang mempunyai anak dengan kondisi seperti ini dan tidak bisa melanjutkan pengobatan, dengan alasan tidak mampu membayar iuran BPJS yang sudah lama menunggak”.,ujar Yusup Budiman kepada Garoetpos.com di Sabtu, (3/11/2022).
Yang lebih ironis lagi, kata Yusup Budiman, pemerintahan setempat tidak memperhatikan dan atau bahkan tidak mengetahui terkait kondisi anak tersebut apalagi sekarang ini kondisi anak tersebut sering kejang dan secepatnya butuh pengobatan.
“Dengan kondisi anaknya seperti ini, akhirnya orangtuanya pun terkendala untuk bekerja karena harus merawat anak ini dengan alakadarnya, apalagi akhir-akhir ini anak ini sering kejang, harapan saya pemerintah dan dinas terkait maupun para dermawan dapat tergugah hatinya untuk melihat serta membantu anak ini untuk supaya bisa melanjutkan pengobatan”.,pungkasnya. (Adis CR)












