GARUT, Garoetpos.com – Kabupaten Garut menyimpan kekayaan warisan rasa yang turun-temurun. Jika bicara soal kuliner khas, mayoritas orang pasti langsung teringat Dodol. Namun, tahukah Anda bahwa ada banyak makanan tradisional lain yang memiliki nilai sejarah unik?
Berikut adalah ulasan sejarah 4 kuliner legendaris Garut berdasarkan catatan budaya dan sejarah:
1. Dodol Garut: Ikon Sejak Era 1930-an

Masyarakat umum mengenal Dodol Garut sebagai oleh-oleh wajib. Namun, sejarah mencatat bahwa industri ini mulai menggeliat secara signifikan berkat peran seorang pengusaha wanita bernama Ibu Karsinah pada tahun 1930-an.

Awalnya, pembuatan dodol adalah upaya masyarakat agraris Garut untuk mengawetkan hasil panen tepung ketan dan gula aren agar tidak terbuang. Resep keluarga Ibu Karsinah kemudian menjadi standar rasa dodol yang kita kenal sekarang: legit, kenyal, dan tahan lama tanpa pengawet buatan.
Referensi: Berdasarkan data dari laman Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Dodol Garut telah diakui sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang merepresentasikan kearifan lokal masyarakat Sunda dalam mengolah hasil bumi.
2. Burayot: Estetika “Ngaburayot” dari Leles

Nama kue berwarna cokelat ini diambil dari Bahasa Sunda. “Burayot” berarti menggelantung. Bentuk unik ini bukan tanpa alasan, melainkan hasil dari teknik penggorengan khusus. Adonan tepung beras dan gula merah yang digoreng diangkat menggunakan bambu kecil, sehingga adonan yang lembek akan tertarik ke bawah karena gravitasi (menggelantung).
Makanan ini secara historis berakar kuat di wilayah Leles, Kadungora, dan Wanaraja. Dahulu, Burayot adalah sajian sederhana para petani gula aren, namun kini telah naik kelas menjadi oleh-oleh premium.
Referensi: Melansir laman Warisan Budaya Takbenda Indonesia (Kemendikbud), Burayot tercatat sebagai salah satu kekayaan kuliner tradisional Jawa Barat yang teknik pembuatannya masih dipertahankan secara manual hingga hari ini.
3. Sambal Cibiuk: Warisan Dakwah Syekh Jafar Sidiq

Berbeda dengan sambal merah yang pedas menyengat, Sambal Cibiuk identik dengan warna hijau dari tomat dan cabai rawit hijau, serta penambahan daun kemangi.
Nilai sejarah sambal ini sangat tinggi karena berkaitan erat dengan penyebaran agama Islam di Garut. Resep ini diyakini merupakan warisan turun-temurun dari keluarga Syekh Jafar Sidiq (Sunan Haruman), seorang tokoh penyebar Islam di kawasan Cibiuk, Garut Utara. Sambal ini dulunya disajikan untuk menjamu tamu-tamu kehormatan yang datang berkunjung ke kediaman sang Syekh.
Referensi: Dalam berbagai literatur sejarah lokal dan cerita tutur masyarakat Cibiuk, resep ini dijaga keasliannya oleh keturunan Syekh Jafar Sidiq dan kini menjadi ikon kuliner wisata religi di Garut.
4. Baso Aci (Boci): Evolusi Jajanan Kaki Lima ke Industri Kreatif

Jika tiga makanan di atas adalah warisan masa lampau, Baso Aci adalah sejarah modern kebangkitan UMKM Garut. Hingga awal tahun 2010-an, Baso Aci masih dikenal sebagai jajanan pikulan atau gerobakan sederhana di sekolah-sekolah Garut.
Ledakan sejarahnya terjadi sekitar tahun 2016-2018, di mana para pelaku usaha muda Garut mulai mengemas baso aci dalam kemasan vakum instan. Inovasi ini mengubah “jajanan kampung” menjadi komoditas industri yang dikirim ke seluruh Indonesia hingga ke luar negeri.
Referensi: Fenomena ini tercatat dalam berbagai laporan perkembangan UMKM Kabupaten Garut, di mana sektor kuliner kemasan (termasuk Baso Aci) menjadi penyumbang signifikan pertumbuhan ekonomi kreatif daerah dalam satu dekade terakhir.
Kekayaan kuliner Garut bukan hanya soal rasa, tapi juga cerita di baliknya. Dengan mencicipinya, kita turut melestarikan sejarah yang ada di dalamnya. Kuliner mana yang jadi favorit Anda? (Hermawan Furqon)











