web statistics
Portal Berita Garoet Pos
  • News
    • Breaking News
    • Depth News
    • Internasional
    • Nasional
    • Politik
    • Regional
    • Soft News
    • Video News
  • Entertainment
    • Netizen
  • Lifestyle
    • Feature
    • Travel
    • Fashion
    • Kesehatan
    • Kuliner
  • Netizen
  • Technology
Portal Berita Garoet Pos
No Result
View All Result
  • News
  • Entertainment
  • Netizen
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Religi
  • Sainstek
  • Seni Budaya
  • Sosial
  • Lifestyle
Home Lifestyle Kesehatan

Mengenal Gejala Wabah Difteri dan Tips Cara Mencegahnya

Hermawan Furqon by Hermawan Furqon
February 21, 2023
in Kesehatan
0
Mengenal Gejala Wabah Difteri dan Tips Cara Mencegahnya

Ilustrasi: anak sedang diperiksa dokter. foto: shutterstock

Garoetpos.com, GARUT – Baru-baru ini, masyarakat dihebohkan dengan wabah difteri yang menyerang warga disebuah desa, di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Dikabarkan setidaknya 7 (Tujuh) orang anak usia 7-10 tahun warga Kampung Cicapar, Desa Sukahurip, Kecamatan Pangatikan, Garut, meninggal dunia diduga akibat wabah tersebut.

Tentunya, pun masyarakat bertanya-tanya, apa wabah difteri itu? dan apa saja gelajanya? serta bagaimana cara mengatasinya agar terhindar dari wabah semacam itu?

Garoetpos.com akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan apa yang tadi dibaha diatas.

Dilansir dari alodokter.com, Difteri adalah infeksi bakteri pada hidung dan tenggorokan. Meski tidak selalu menimbulkan gejala, penyakit ini biasanya ditandai oleh munculnya selaput abu-abu yang melapisi tenggorokan dan amandel.

Difteri tergolong penyakit menular berbahaya dan berisiko mengancam jiwa. Jika tidak ditangani, bakteri penyebab difteri dapat mengeluarkan racun yang merusak jantung, ginjal, atau otak.

Difteri bisa dicegah melalui imunisasi. Di Indonesia, pemberian vaksin difteri dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus, atau disebut juga dengan imunisasi DPT.

Penyebab dan Faktor Risiko Difteri

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria, yang dapat menyebar dari orang ke orang. Seseorang bisa tertular difteri bila tidak sengaja menghirup atau menelan percikan air liur yang dikeluarkan penderita saat batuk atau bersin.

Penularan juga bisa terjadi jika menyentuh benda yang sudah terkontaminasi air liur penderita, seperti gelas atau sendok.

Difteri dapat dialami oleh siapa saja. Namun, risiko terserang difteri akan lebih tinggi pada orang yang tidak mendapat vaksin difteri secara lengkap. Selain itu, difteri juga lebih berisiko terjadi pada orang yang:

  • Tinggal di area padat penduduk atau buruk kebersihannya
  • Bepergian ke wilayah yang sedang terjadi wabah difteri
  • Memiliki daya tahan tubuh lemah, misalnya karena menderita AIDS

Gejala Difteri

Gejala difteri muncul 2 sampai 5 hari setelah seseorang terinfeksi. Meskipun demikian, tidak semua orang yang terinfeksi difteri mengalami gejala. Apabila muncul gejala, biasanya berupa terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel penderita.

Selain lapisan abu-abu di tenggorokan, gejala lain yang dapat muncul meliputi:

  • Sakit tenggorokan
  • Suara serak
  • Batuk
  • Pilek
  • Demam
  • Menggigil
  • Lemas
  • Muncul benjolan di leher akibat pembengkakan kelenjar getah bening

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika mengalami gejala penyakit difteri di atas, terutama bila memiliki risiko untuk tertular.

Segera ke IGD rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis jika muncul gejala difteri yang lebih berat, seperti:

  • Gangguan penglihatan
  • Keringat dingin
  • Sesak napas
  • Jantung berdebar
  • Kulit pucat atau membiru

Diagnosis Difteri

Dokter dapat menduga pasien terkena difteri jika terdapat lapisan abu-abu di tenggorokan atau amandelnya. Namun, untuk memastikannya, dokter akan melakukan pemeriksaan usap atau swab tenggorok.

Pemeriksaan usap tenggorok dilakukan dengan mengambil sampel lendir dari tenggorokan pasien, untuk kemudian diteliti di laboratorium.

Pengobatan Difteri

Difteri tergolong penyakit serius dan harus diatasi sesegera mungkin. Menurut data statistik, 1 dari 10 pasien difteri meninggal dunia meski telah mendapat pengobatan.

Beberapa jenis pengobatan yang dilakukan untuk menangani difteri adalah:

Suntik antiracun

Dokter akan memberikan suntik antiracun (antitoksin) difteri guna melawan racun yang dihasilkan oleh bakteri difteri. Sebelum suntik dilakukan, pasien akan menjalani tes alergi kulit untuk memastikan tidak ada alergi terhadap antitoksin.

Antibiotik

Dokter akan memberikan antibiotik, seperti penisilin atau erythromycin, untuk membunuh bakteri difteri dan mengatasi infeksi. Perlu diingat, antibiotik harus dikonsumsi sampai habis sesuai resep dokter, guna memastikan tubuh sudah bebas dari penyakit difteri.

Dua hari setelah pemberian antibiotik, umumnya penderita sudah tidak lagi bisa menularkan penyakit difteri.

Penanganan difteri dilakukan di dalam ruang isolasi di rumah sakit, guna mencegah penularan penyakit ini ke orang lain. Jika diperlukan, dokter juga akan meresepkan antibiotik pada keluarga pasien.

Bagi pasien yang mengalami sesak napas akibat selaput di tenggorokan yang menghalangi aliran udara, dokter akan memasang alat bantu napas.

Komplikasi Difteri

Bakteri penyebab difteri menghasilkan racun yang bisa merusak jaringan di hidung dan tenggorokan, hingga menyumbat saluran pernapasan. Racun tersebut juga bisa menyebar melalui aliran darah dan menyerang berbagai organ.

Komplikasi yang dapat terjadi antara lain:

  • Radang otot jantung (miokarditis)
  • Pneumonia atau infeksi paru-paru
  • Gagal ginjal
  • Kerusakan saraf
  • Kelumpuhan

Pencegahan Difteri

Difteri dapat dicegah dengan melakukan beberapa upaya berikut:

  • Imunisasi DPT
    Pastikan anak menerima imunisasi DPT, yaitu pemberian vaksin difteri yang dikombinasikan dengan vaksin tetanus dan batuk rejan (pertusis). Imunisasi DPT merupakan salah satu imunisasi wajib di Indonesia yang diberikan pada usia 2, 3, 4, dan 18 bulan, serta usia 5 tahun.
  • Konsultasi dengan dokter
    Konsultasikan dengan dokter jika anak belum mendapatkan vaksin DPT, terutama jika sudah berusia lebih dari 7 tahun. Dokter akan memberikan vaksin Tdap.
  • Antibiotik
    Selain untuk mengatasi difteri, antibiotik juga dapat diberikan pada orang yang kontak dekat dengan penderita sebagai pencegahan.
Sumber: alodokter.com
Editor: Adis CR
Referensi : Arguni, E., et al. (2021). Diphtheria Outbreak in Jakarta and Tangerang, Indonesia: Epidemiological and Clinical Predictor Factors for Death. PLOS One, 16(2), pp. 1–11.
Blumberg, et al. (2018). The Preventable Tragedy of Diphtheria in the 21st Century. International Journal of Infectious Diseases, 71(2018), pp. 122–3.
Centers for Disease Control and Prevention (2021). Vaccines. Catch-Up Guidance for Children 4 Months through 18 Years of Age.
Centers for Disease Control and Prevention (2020). Diphtheria. Diagnosis and Treatment.
Ikatan Dokter Anak Indonesia IDAI (2017). Imunisasi. Jadwal Imunisasi 2017.
Mayo Clinic (2022). Diseases & Conditions. Diphtheria.
Norman, A. Verywell Health (2021). An Overview of Diphtheria.
Wint, C. Healthline (2018). Diphtheria.
Share :
Tags: Corynebacterium diphtheriaDifteri SukahuripGejala DifteriPengobatan DifteriWabah Difteri
Hermawan Furqon

Hermawan Furqon

Praktisi IT Yang Menggemari Dunia Musik, Film dan Game

Related Posts

Kesehatan

Inovasi Digital Mahasiswa UNISA Yogyakarta

by Ogi Andreansyah
June 25, 2024
Direktur RSUD dr.Slamet Garut Imbau Masyarakat Hindari Jasa Calo Saat Urus Administrasi Pasien
Kebijakan Publik

Direktur RSUD dr.Slamet Garut Imbau Masyarakat Hindari Jasa Calo Saat Urus Administrasi Pasien

by Adis Cahyana
April 17, 2024
Momentum Akhir Ramadhan, RSUD dr.Slamet Garut Bantu Ringankan Biaya Perawatan Pasien
Kesehatan

Momentum Akhir Ramadhan, RSUD dr.Slamet Garut Bantu Ringankan Biaya Perawatan Pasien

by Adis Cahyana
April 8, 2024
Peneliti Ungkap Risiko Bagi Kesehatan Jika Botol Plastik Bekas Dipakai Lagi
Kesehatan

Peneliti Ungkap Resiko Bagi Kesehatan Jika Botol Plastik Bekas Dipakai Lagi

by Hermawan Furqon
February 21, 2023
My Child My Fighter "Retinoblastoma"
Kesehatan

My Child My Fighter “Retinoblastoma”

by Hermawan Furqon
July 1, 2022
Next Post
Peneliti Ungkap Risiko Bagi Kesehatan Jika Botol Plastik Bekas Dipakai Lagi

Peneliti Ungkap Resiko Bagi Kesehatan Jika Botol Plastik Bekas Dipakai Lagi

Asia Toserba Garut Selenggarakan Event "Asia Baby Crawling" Diikuti Puluhan Peserta Bayi Lucu

Sambut Anniversary ke-32 Asia Toserba Garut Selenggarakan Event "Asia Baby Crawling" Diikuti Puluhan Peserta

PLN UP3 Garut Siapkan Hadiah Bagi Pelanggan Tertib Bayar

PLN UP3 Garut Siapkan Hadiah Bagi Pelanggan Tertib Bayar

No Result
View All Result
Cognitive Technology What It Is, Why It Matters, and How Organizations Are Using It Today
English Version

Cognitive Technology: What It Is, Why It Matters, and How Organizations Are Using It Today

by Hermawan Furqon
January 10, 2026
1

Cognitive technology is a practical umbrella term for software that mimics aspects of human cognition—perceiving, reasoning, learning, and conversing—to help...

Quantum Computing: The Next Technological Revolution

Quantum Computing: The Next Technological Revolution

January 10, 2026
How Faster Loading Speed from the Best Hosting Can Boost Your SEO

How Faster Loading Speed from the Best Hosting Can Boost Your SEO

January 10, 2026
Best Insurance Companies in Indonesia Safeguarding Your Future Garoetpos.com,png

Best Insurance Companies in Indonesia – Safeguarding Your Future

January 10, 2026
Process For Hard Drive Data Recovery and Data RAID Recovery www.garoetpos.com

Process For Hard Drive Data Recovery and Data RAID Recovery

January 10, 2026
More Benefits of Project Management Software For Your Company garoetpos.com

More Benefits of Project Management Software For Your Company

January 10, 2026
Portal Berita Garoet Pos

  • Disclaimer
  • Our Team
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2026 Garoetpos.com - PT Calva Literasi Mandiri - Build by Calva Indonesia

No Result
View All Result
  • News
  • Entertainment
  • Netizen
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Religi
  • Sainstek
  • Seni Budaya
  • Sosial
  • Lifestyle

© 2026 Garoetpos.com - PT Calva Literasi Mandiri - Build by Calva Indonesia

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used